Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Hukum, IIM Jambi Mengadakan Studi Sejarah

Jambi- Sebagai bagian dari kegiatan studi lapangan, mahasiswa semester I Fakultas Ushuluddin dan Hukum Institut Islam Maarif (IIM) Jambi mengadakan perjalanan ziarah ke makam Datuk Rangkayo Hitam di Desa Berbak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Lokasi bersejarah ini berjarak sekitar 87 kilometer dari Kota Jambi dan dapat ditempuh melalui jalur Suak Kandis. Sedikitnya 35 mahasiswa turut serta dalam kegiatan ini, didampingi oleh dosen pengampu mata kuliah Islam dan Budaya Jambi, Ibu Pit Arzuna. Studi lapangan ini bertujuan agar mahasiswa tidak hanya memahami materi perkuliahan secara teoritis, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung dengan mengunjungi situs peninggalan sejarah Islam di Jambi.

Datuk Rangkayo Hitam merupakan tokoh penyebar agama Islam di Jambi pada masa pemerintahan sekitar tahun 1500–1550 Masehi. Beliau adalah putra dari Datuk Paduko Berhalo dan dikenal sebagai salah satu raja sekaligus ulama yang berperan besar dalam perkembangan Islam dan budaya Melayu Jambi. Makamnya terletak di tepi Sungai Batanghari, tidak jauh dari kawasan permukiman warga.

Meskipun akses menuju lokasi masih terdapat beberapa ruas jalan yang perlu perbaikan dan perjalanan memakan waktu hingga tiga jam, semangat para mahasiswa tetap tinggi untuk mencapai makam sang tokoh penyebar Islam tersebut.

Dekan Fakultas Ushuluddin dan Hukum IIM Jambi, Bapak Faisal Ahmadi, S.HI., MCL., CPM, menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang tinggi kepada dosen serta mahasiswa yang telah melaksanakan kegiatan studi lapangan ini.

“Studi lapangan ini merupakan salah satu contoh nyata upaya fakultas dalam mengembangkan pendidikan berbasis nilai-nilai keislaman dan kesadaran sejarah. Mahasiswa dapat memahami langsung proses penyebaran Islam di Jambi serta melihat bagaimana nilai-nilai Islam membentuk budaya dan kehidupan masyarakat,” ujarnya.

Ia juga berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan di masa mendatang. “Dengan terjun langsung ke situs-situs bersejarah, mahasiswa tidak hanya belajar dari buku, tetapi juga mengalami dan menyaksikan jejak peradaban Islam secara nyata. Ini sangat penting untuk menumbuhkan rasa bangga dan kepedulian terhadap warisan budaya dan sejarah daerah,” tambahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *